Minggu, 20 Januari 2013

*calon imam, untuk Alya*


Alya bingung. Mendadak dia akan di lamar oleh seseorang yang tidak terlalu dikenalnya.

“ini sudah waktunya Alya, kau sudah harus memikirkan masa depan mu. kuliah mu sudah selesai, kamu juga sudah mendapat jaminan  pekerjaan tetap, apalagi yang kamu tunggu?”” ujar bapak.

“ho-oh ni kak Alya, betah ya ngejomblo terus? Naya juga pengen punya kakak ipar loh..!” Naya, satu-satunya adik Alya ikut-ikutan nimbrung. Alya nyengir melihat adiknya.

Alya diam. Bingung menatap wajah ibu dan bapak yang menginginkannya untuk segera menikah.

“tapi pak…Alya……”

“ya sudah, kamu pikirkan saja dulu hal ini baik-baik. Bapak dan ibu akan menunggu jawaban mu. jangan lama-lama di pikirkan, karna yang menunggu butuh jawaban segera dari kamu.”

“semua keputusan ada di tanganmu, Alya. Ibu dan bapak memang tidak akan memaksa, tapi ibu mohon, pikirkan baik-baik.”

Lagi-lagi Alya diam. Menarik nafas panjang dan mengangguk.
***

Pukul 00.00 Alya belum juga tidur, tiba-tiba Naya masuk ke kamarnya.

“ih, Naya. Ketok dulu napa kalo mau masuk kamar orang!”

Naya nyengir, “ni kan kamar kakak naya, bukan kamar orang lain. Lagian knapa sih kak jam segini belon tidur? Masih bingung ya mikirin lamaran itu? Haha…resiko ya uda gede!"

“yee...bukannya ngebantuin cari solusi malah ngeledekin. Tar kamu juga bakal rasain gimana bingungnya!”

“ya maap dah…Naya mah kagak bermaksud gitu, justru Naya dateng niih mau ngebantuin cari solusi buat kakak. Eh kak Alya malah emosi duluan.”

“bukan emosi Nay, tapi kakak bener-bener bingung.”

“bingung knapa sih? Crita donk kakak sama Naya, gini-ginikan Naya bukan anak TK lagi, Naya paham walau belon ngerasain gimana.”

Alya menghela nafas panjang. Benar juga, slama ini cuma Naya adik satu-satunya yang selalu setia mendengarkan semua cerita Alya .

“ih kakak..! di tanya koq malah diam?”

“ehm…gimana ya Nay kakak mulainya…”

“bilang aja gimana bisa, susah amat!” Naya mulai ga sabar.

“kakak bingung, gimana kakak mau trima sedangkan kakak ga kenal betul siapa orangnya…”

“tapi kan sekilas kakak tau dia,,,” ujar Naya.

“iya…tapi denger dulu Nay…”

Naya diam mengangguk.

“hhffh… selama kakak di yayasan beberapa bulan itu memang kakak tau dia, tapi sikap dia saat itu biasa aja ke kakak, kakakpun gitu. Toh dia ga nunjukin sinyal apa-apa ke kakak, jelas kakak bingung Nay, koq bisa tiba-tiba dia mau ngelamar kakak… ga terlalu tau kakak gimana dia…”

“ah kakak, kalo ga terlalu kenal sama dia kan ntar bisa ta’arufan, biar bisa kenal lebih jauh…biar bisa tau lebih jauh gimana orangnya.”

“ga Nay, kakak ga mau…” Alya menggeleng.

“lha, koq ga mau? Tadi katanya kakak ga terlalu kenal dia, nah biasanya kan sebelum nikah tu ada sesi ta’arufan dulu gitu…”

“justru itu, kakak ga mau buat dia tambah berharap kakak. Misal uda ta’arufan, trus kakak uda tau gimana dia, lha kalo dianya ga sesuai dengan kriteria calon suami kakak, gimana coba? Kan ga mungkin kakak langsung mutusin gitu aja. Ta’arufan itu kalo uda bener-bener ngerasa cocok, Nay… langsung trima pas di lamar, trus ta’arufan, trus tunangan kalo ada, dah gitu baru nikah.”

Naya diam. Mikir.

“ribet kan, Nay? Makanya, nikah itu bukan soal gampang Nay. Kudu mikir baek-baek. Awalnya ntu harus pas. Ni awalnya aja ga beres, gimana pertengahan sama akhirnya coba??” Alya menambahkan.

“tapi ga seribet kaya’ pikiran kakak lah, kawan Naya banyak tuh yang pas di lamar, trima, n langsung nikah.” Bantah Naya.

“ya…itu kawan mu Nay, ini kakak mu, kan beda.”

“kakak siih… milih-milih banget orangnya, mesti ya ada kriteria gitu? Kalo gitu, sekalian dah kakak pasang iklan, di cari kriteria calon suami Alya; ganteng, kaya, punya mobil, rumah mewah, etc… gitu ya maunya kakak?” canda Naya.

Alya membetulkan posisi duduknya.
“hm… ga gitu juga kali Nay,,,! Kakak bukannya mau pilih-pilih orang untuk kakak jadikan calon suami, tapi kan ga ada salahnya kita punya kriteria untuk calon iman kita? Nikah itu bukan sekedar nikah lho Nay, nikah bukan cuma sehari dua hari, sebulan dua bulan, tapi untuk selamanya. Kita kudu punya pilihan buat masa depan, kudu punya perencanaan yang matang…”

“kebanyakan rencana kakak mah, tar yang ada ga nikah-nikah lagi…” potong Naya.

Alya tersenyum.
“udah, tidur yuk…” ajak Alya.
“Naya tidur di sini aja ya? Ga brani ke kamar lagi uda tengah malam. Hehehe…”

***

Meski sudah berusaha untuk memejamkan mata, tapi Alya masih terjaga. Sedangkan Naya sudah dari tadi terlelap dari tidurnya.
Di sepertiga malam, Alya larut dalam munajat yang berkepanjangan, ia adukan smua pada Nya, hanya Tuhan yang tahu sgala rasa yang ada di hatinya, hanya Tuhan yang tahu kepada siapa ia merindu, yang bagaimana ia harapkan… ah, hanya Engkau Yang Maha Mengetahui sgala yang tersembunyi, Ya rabb…

Alya menangis.
Ia kembali teringat kepada sosok yang beberapa tahun silam pernah mengisi kekosongan hatinya, yang begitu sangat mencintainya dan dicintainya. Berharap dapat membina rumah tangga yang bahagia, tapi siapa sangka, impian dan rencananya kandas seketika. Memang, apapun itu bisa kita rencanakan, kita atur sedemikian rupa, tapi yang pasti Tuhan Maha Menentukan segalanya.  Meski semuanya kandas di tengah jalan, namun rasa cinta dan rindu di hati Alya tidak pernah hilang dan orang tersebut tidak pernah ia lupakan sampai sekarang.

Sejak saat itu, ia sudah tidak punya keinginan lagi untuk menikah, kecuali dengan orang yang pernah mencintainya dan dicintainya. Entah kenapa ia begitu yakin, sosok tersebut pasti akan kembali menjemputnya menjadi bidadari…meski ia harus menunggu sekian lamanya. Selama ini, tidak sedikitpun Alya berpikir kapan akan menikah, oleh karena itu ia begitu shock dan bingung ketika ada yang melamarnya.

Rasanya ia tidak mau meninggalkan cinta itu, tidak sedikitpun ia berpikir akan memberikan cintanya kepada oranglain selain seseorang yang dicintainya, tapi…apakah orang tersebut masih mencintainya? Apakah orang tersebut Masih mengharapkannya untuk menjadi bidadari? Ia tidak tahu. Lantas, sampai kapan kau masih mau menunggu Alya? Belum tentu seseorang itu akan datang kembali kepada mu! mengapa tidak kau terima saja lamaran itu??! Kau bodoh, Alya! Mengharap seseorang yang belum tentu melamarmu!

Begitulah, hati dan pikirannya berkecamuk. Alya bertambah bingung. Ia terus berzikir dan memohon pertolongan Tuhan, ia tidak mau setan menguasai hati dan pikirannya. Walau bagaimana pun, Alya harus tetap berpikir rasional. Ia tidak mau cinta membutakan hatinya.

 “ya Tuhan…! tolong aku… cinta dan rindu ini rasanya kian menyiksa saja. Cinta itu…rindu itu…lamaran itu…! oh, Tuhan,,, hamba Mu ini sangat lemah. Bantu hamba ya Rabb…jangan biarkan hamba larut dalam kebingungan ini…”

Alya kembali menangis.
***

Keesokan paginya di ruang makan keluarga.
“kak Alya mana, Nay?”
“masih di kamar buk, lagi siap-siap berangkat.” Jawab Naya.
“kamu tidur di kamar kak Alya semalam? Pasti kak Alya cerita tentang lamaran itu sama kamu kan? Apa jawaban dia Nay? Ibu ngotot, ingin tahu.
“kak Alya ga ada cerita apa-apa kok buk, semalam Naya ga brani tidur sendiri aja, makanya ke kamar kak Alya.” Naya berusaha menjaga cerita Alya, walau bagaimana pun ia berpikir biar kakaknya saja yang langsung menjawab ke ibu dan bapak.

Bapak yang mendengar hanya diam saja.
“alah…kamu ini Nay, maen rahasia-rahasiaan ni sama ibu? Uda cukup kakak mu saja yang jadi psikolog, nyimpen rahasia orang, kamu jujur aja ke ibuk…”

Pembicaraan mereka terhenti ketika Alya datang.

“pagi buk, pak…” sapa Alya. Ibu dan bapak tersenyum.
“ih, Naya ga di sebut!”
“idiih…macam anak kecil kamu.” Alya menjitak kepala Naya.
“aw…sakit tau!”
“sudah…sudah…makan dulu.” Ucap ibu.
“Alya, bagaimana? Sudah di pertimbangkan baik-baik yang kita bicarakan kemarin?” tanya bapak.

Alya diam. Naya juga, kali ini dia tidak akan membuat kakaknya bertambah gelisah.

“ga masalah jika kamu tidak ingin menyampaikannya pada bapak atau ibu, tapi menurut kabar, yang melamarmu akan mendengar langsung jawaban dari kamu.” Tambah bapak.

Glek. nafas Alya seakan terhenti.

“bapak serius?” kata Alya.
“iya.” Bapak menjawab mantap.
“tapi pak…”
“skali lagi, smua keputusan ada ditangan mu, Alya. Bapak dan ibu tidak akan memaksa. tapi, pikirkanlah baik-baik. Jika ada yang ingin kamu sampaikan, sampaikan saja langsung pada orang tersebut besok.”
“ja..jaddii…dia akan ke sini pak? Besok??”
“iya, kamu tenang saja, dia akan datang sendiri besok. dia hanya ingin memastikan terlebih dahulu apa jawaban dari kamu.”
“Iya pak, Alya akan mempertimbangkan smua ini baik-baik.” Alya mulai tenang dan sedikit lega sekarang.
Ia melangkah ketempat kerja dengan tenang dan siap melewati hari esok.

Terimakasih, Tuhan…
Engkau tlah membuka jalan…

***
“kak, emang kriteria seperti apa sih yang kakak mau? Apa kurangnya kak Farhan coba? Orangnya ganteng, baek, punya kerja tetap, orangnya juga sering ke musholla tuh…” tanya Naya malam sebelum kedatangan Farhan.

Alya tersenyum.
“entah lah Nay…kalo ada yang melamar gini, lagi-lagi kakak inget masa lalu kakak…”
“yaelah kak…masa lalu kakak itu dah lewat…ngapain sih di inget-inget lagi…! Ato jangan-jangan, kakak masih punya prasaan ya sama kak Rasyid?? Wahh… bahaya ini…!!”
“lho, koq bahaya sih Nay? Justru itukan wajar??”
“ya wajar sih wajar kak…!! Bahayanya ntu kalo kakak terus-terusan inget kak Rasyid, tar stiap kali ada yang lamar kakak, malah slalu kakak tolak…! Ih kakak… lagian kan kakak ga tau gimana prasaan Kak Rasyid skarang buat kakak…! Haduuuh…kakak mikir donk kak…!” Naya khawatir.

“nah itu dia…tadi kan Naya tanya kriteria seperti apa yang kakak mau? Jawabannya, smua kriteria itu ada pada kak Rasyid.”
“lha terus, kakak mau nyama-nyamain kak Rasyid sama kak Farhan? Maunya kakak smua kriteria yang ada sama kak Rasyid juga ada sama kak Farhan gitu? Yaelah kak…jelas-jelas manusia ini kagak ada yang sama kak…! Pribadinya ntuh beda-beda. Kakak kan psikolog, lebih tau donk hal itu. Ih, tambah geram lah Naya sama kakak…!!”

Alya hanya tersenyum mendengarkan argument adiknya itu.
***

Keesokan harinya di ruang tamu sederhana kediaman Pak Yahya, bapak Alya dan Naya, seseorang yang berpakaian rapi dan berwajah tampan duduk dengan tenangnya, seolah telah siap dengan apapun yang diterimanya hari ini, dialah Farhan, laki-laki yang akan melamar Alya. Sementara Alya, ditemani sang Ibu dan Adiknya duduk tidak jauh di depan Farhan dan Bapaknya.

“sebelumnya saya minta maaf, bu, pak karna langsung datang kemari, seharusnya saya datang bersama keluarga, tapi ini sebenarnya inisiatif saya sendiri untuk mengetahui terlebih dahulu pertimbangan dan jawaban dari Alya terkait dengan lamaran saya… jika jawabannya positif, insya Allah saya akan langsung mengajak keluarga saya, tapi jika tidak…apapun jawabannya insya Allah juga akan saya terima.” Ujar Farhan rendah dan tersenyum.

Bapak dan ibu Alya manggut-manggut. Naya kagum, sosok di depannya adalah seorang yang berani mengambil resiko. Jelas iya, berani melamar, maka juga harus berani dengan sgala konsekuensinya. ucap Naya dalam hati.

“bagaimana, Alya?” tanya bapak.

Alya menunduk.
“bismillah… sebelumnya, Alya mohon maaf jika nanti apa yang Alya sampaikan ada yang tidak berkenan…dan terimakasih buat kak Farhan yang tlah siap menerima apapun jawaban dari Alya. Langsung saja, dengan sgala kerendahan hati… Alya sangat minta maaf, Alya tidak bisa menerima lamaran kak Farhan…”

Ibu dan bapak terkejut. Sama sekali tidak menyangka jawaban dari putri pertamanya itu. 
“wah…kak Alya, bener-bener deh!!” lagi-lagi Naya berujar dalam hati.
Farhan tampak tenang dan tersenyum. Seakan sudah bisa menebak jawaban dari Alya.

“sekali lagi, Alya minta maaf…” Alya terus menunduk.
“iya Alya, tidak apa-apa. Mungkin kita tidak berjodoh…” ucap Farhan.

***

Di ruang keluarga…
“di luar dugaan Naya ya, kak Alya bener-bener nolak kak Farhan. Kiraen bakal di terima…” Naya mulai protes.

Alya tersenyum.
“iya Al, lagian, apa kurangnya Farhan coba? Punya kerjaan tetap, sekilas menurut ibu dia juga anaknya rajin ibadah…” sambung ibu.
“tau tuh kak Alya, masih kebayang-bayang masa lalu kali buk… eehh… eumm…maksud Naya…” Naya kecoplosan.

Alya melototi Naya. Naya diam, menunduk. Ibu dan bapak saling berpandangan.

“maksudnya, Rasyid?” tanya ibu dan bapak bersamaan.
“iya buk, pak.” Jawab Alya jujur.
“lantas, apa hubungannya dengan Rasyid sehingga kamu menolak lamaran Farhan, Al? bukannya sudah lama kalian tidak ada hubungan lagi?”
“udah lah kak…terbuka aja sama ibuk, sama bapak… toh ini demi masa depan kakak juga. Sayang tau Nay liat kakak, sampe skarang belum nikah juga.”
“iya Al, kenapa?” bapak ingin tau.
Alya diam.
“katanya kak Farhan bukan type nya kak Alya buk…” tambah Naya.
“lha, memangnya harus bertype-type gitu?” ibu penasaran.
“yaa…kata kak Alya, kak Alya tuh punya kriteria sendiri gitu buk untuk calon suaminya. Tapi, lho, koq jadi Naya yang ngomong ya? Abiz kak Alya diem terus siihh…! Udah lah kak, ngomong aja susah banget sih…! desak Naya.

Ibu dan bapak tersenyum.

“iya buk, yang dikatakan Naya benar…” Alya mengatur nafas.
“sampai sekarang, Alya memang belum bisa lupakan Kak Rasyid… Alya masih menunggu, entah kenapa Alya merasa bahwa dia akan kembali datang menjemput Alya…”

“emang kamu tau kabarnya Rasyid skarang?” tanya bapak.
“engga pak…Alya ga pernah tau…”
“Lho, jadi koq kamu masih nunggu Al? kan belum tentu Rasyid bakalan datang. Siapa tau dia sudah menikah… sementara kamu cuma nungguin dia, kapan kamu akan menikah Al?”
“itu lah buk, Naya juga uda pernah bilang gitu sama kak Alya, tapi kakak ngotot nunggu tuhh…!” Naya kesal.

“bukan gitu buk…pak, sebenarnya Alya belum bisa mencintai orang lain, karna rasanya Alya masih mencintai kak Rasyid, meskipun Alya ga tau gimana dengan kak Rasyid… Lagi pula, Alya juga kurang berkenan dengan kak Farhan…”

“apa yang membuat kak Alya kurang berkenan dengan kak Farhan?” tanya Naya mewakili ibu dan bapak.
“Alya memang tidak terlalu kenal kak Farhan dan Alya tau Kak Farhan baik, orangnya jujur dan bertanggung jawab, ibadahnya juga bagus, tapi Alya tidak suka dengan kebiasaannya merokok…”

“what?? Dari mana kakak tau? Trus cuma itu alasannya sehingga kakak nolak kak Farhan???”

“kakak  perhatikan itu waktu kami sama-sama praktek di yayasan beberapa bulan yang lalu. Iya, karna itulah kakak menolak lamaran dia.” Jawab Alya tegas.

“kan kebiasaan merokoknya lama-lama bisa hilang Al,, bapak mu juga dulu perokok berat, tapi setelah menikah dengan ibu kebiasaan merokok bapak uda ga lagi, ya kan pak??”

“iya Alya, lama-lama juga orang merokok bakal berhenti.” Tambah bapak meyakinkan.

“engga buk, pak. Alya tetap ga suka dengan orang merokok.”

“jadi kakak juga ga suka donk sama bapak…? Haha…” canda Naya. Ibu dan bapak tertawa. 
“hati-hati lhoo kak, jangan berlebihan ga sukanya, tar tiba-tiba Allah ngasi jodoh buat kakak seorang perokok gimana coba? Ato mungkin kalo memang kakak jodoh dengan kak Rasyid trus waktu uda menikah, kak Rasyid juga merokok, gimana hayyooo? Kan ga mungkin kakak minta cerai…”

“iiihh…Naya, kakak serius…!!” Alya geram.
“ Ibu, bapak sama Naya juga serius kak…!!”

“sudah…sudah…!! Memangnya laki-laki seperti apa yang kamu inginkan Al?”

“seperti kak Rasyid buk. Rasanya Alya belum menemukan yang seperti beliau…”

“aduuh Alya,,,mana ada di dunia ini orang yang sama sifatnya…”

“iya buk, Alya tau… tapi minimal, orang tersebut bisa membimbing Alya, bisa menjaga dan melindungi Alya, menuntun Alya ke jalan yang baik, agamanya kuat, akhlaknya baik, jiwa dan pribadinya bersih, dan yang paling penting bukan perokok!”

“itu bukan minimal kak,,,uda maksimal…!! Perfect banget siih maunya. Heran deh liat kakak…!! Kan belum tentu kak Rasyid bakal……”

“iya, kakak juga tau itu…! Belum tentu kak Rasyid bakal ngelamar kakak, belum tentu kak Rasyid jodoh kakak, tapi sekali lagi, tidak salah kan kita inginkan calon imam yang demikian? Kakak tau, Allah Maha Mengetahui yang sesuai buat kakak, tapi itulah slalu doa kakak. Itu yang kakak inginkan. Toh, jika suatu saat mungkin Allah memberikan jodoh yang tidak sesuai dengan keinginan kakak, insya Allah kakak ridha dan ikhlas. Semua itu dari Allah, bukankah yang dari Allah baik untuk kita? Kakak tidak meminta yang terbaik, tidak juga menginginkan yang sempurna, kakak hanya butuh yang sederhana, dan sesuai untuk kakak. Itu saja.” Jawab Alya tegas.

Ibu, bapak dan Naya terharu.

“ah, kakak… Naya sayang kakak…!! Smoga Allah mendengarkan doa kakak…” Naya memeluk kakaknya.

“Amin…”
 Alya tersenyum. Lega.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar